Warga Kampus Merdeka

kampus-merdeka

 

Penulis : Lukman A. Irfan

Sebuah kebijakan baru pasti akan menuai kritik. Begitu juga kebijakan pemerintah terkait Kampus Merdeka. Adakalnya pandangan kritik sangat keras yang menilai Kampus Merdeka adalah kebijakan waton bedo. Adakalnya kritik halus yang menilai Kampus Merdeka adalah ganti menteri ganti kebijakan. Adakalnya dinilai sebagai rentetan dari konspirasi global yang menilai Kampus Merdeka adalah dukungan kepada materialis lebih leluasa mengatur dunia.

Adakalanya Kampus Merdeka dinilai dengan pandangan sinis. Kelompok ini menilai Kampus Merdeka sudah kalah terseok-seok dihadang oleh Korona. Adakalanya dinilai dengan pandangan orang tua yang menilai Kampus Merdeka adalah gegabahnya anak muda. Adakalanya dinilai dengan pandangan anak-anak yang menilai Kampus Merdeka adalah urusan mereka, yang penting aku tetap asyik. Adakalanya dinilai pandangan bijaksana yang menyarankan untuk mengambil Kampus Merdeka sebagai pelajaran berharga.

Dua alenia di atas mungkin tidak mewakili semua pandangan pihak-pihak terkait pendidikan di Indonesia, apalagi mewakili pandangan seluruh rakyat Indonesia. Bagi mahasiswa, ragam pandangan di atas sebaiknya disikapi dengan bijaksana dan melakukan langkah-langkah mempelajarinya demi kesuksesan studinya. Bagi dosen, ragam pandangan di atas adalah kenyataan adanya beragam pandangan masyarakat, dan mempersiapkan mengelolanya menjadi sumbangan bagi tercapainya profesinya sebagai dosen, yaitu mefasilitasi mahasiswa menjadi manusia seutuhnya di masa depan.

Kampus Merdeka Menjawab Tantangan Masa Depan?

Sir Eric Ashby (1972) menandai perubahan besar dalam dunia pendidikan dengan menyebutnya sebagai Revolusi Pendidikan. Setidaknya sampai abad 20 sudah terjadi 4 kali Revolusi Pendidikan, yaitu: (1) Revolusi I, orangtua menyerahkan tanggungjawab pendidikan anak kepada orang lain yang ahli; (2) Revolusi II, pembelajaran menggunakan bahasa lisan/tulisan, kegiatan pendidikan dilembagakan; (3) Revolusi III, muncul media cetak, terjadi karena guru ingin mengajarkan lebih banyak siswa dan lebih cepat, sementara itu kemampuannnya makin terbatas hingga perlu menggunakan media; (4) Revolusi IV, muncul media elektronik. Pada saat ini, teknologi dan media dalam dunia pendidikan berkembang pesat. Pendidikan mulai difokuskan pada mengajar anak didik tentang bagaimana belajar. Ajaran selanjutnya akan diperoleh si pembelajar sepanjang usia hidupnya melalui pelbagai sumber dan saluran.

Baca juga : 7K Views di Tengah Pandemi

Revolusi Pendidikan IV sudah tidak lagi mewadahi perkembangan terkini fenomena pendidikan. Hal ini terlihat dari ketidakmampuannya mencakup atas respon gejala-gejala baru yang unpridectable dan disruption. Oleh karenanya diperlukan Revolusi Pendidikan V, yaitu yang mencakup tantangan berkembangnya berbagai macam sumber belajar termasuk orang, pesan, media, alat, metode, dan lingkungan yang berbasis teknologi internet yang cenderung menghanyutkan dan bahkan menenggelamkan. Bahkan ada pihak-pihak yang memanfaatkan sumber belajar teknologi dan informasi sebagai bahan ramuan yang memabukkan dan dicekokkan kepada peserta didik, seakan dipersepsikan sebagai jamu yang menyehatkan, padahal itu adalah racun hipnotis yang menghilangkan kesadaran kemanusiaan.

Kampus Merdeka berupaya menjawab tantangan-tantangan di atas. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menjelaskan bahwa Merdeka Belajar (di perguruan tinggi disebut Kampus Merdeka) bertolak dari semangat menciptakan pembelajaran yang bahagia, tanpa dibebani dengan pencapain skor atau nilai tertentu yang meresahkan karena pada dasarnya setiap pembelajar memiliki bakat dan kecerdasannya masing-masing. Pembelajaran diharapkan lebih banyak di luar kelas dan menfasilitasi pengembangan karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi.

Di tingkat perguruan tinggi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menyampaikan pentingnya menyiapkan lulusan yang tangguh di masa depan yang penuh tantangan dan persaingan bagaikan lautan luas. Oleh karenanya, mahasiswa di perguruan tinggi harus disiapkan menjadi perenang yang tidak hanya dilatih 1 gaya dan hanya dilatih dalam kolam renang/kampus yang aman. Prodi tingkat sarjana harus memberikan latihan berbagai gaya berenang dengan medan sebagaimana lautan sesungguhnya.

Apakah kemudian Kampus Merdeka ini mampu mendesain, mengembangkan, menerapkan hasilnya, dan mengontrolnya sampai pada keberhasilan yang tidak semu? Sikap terbaik bagi dosen, manajemen kampus, dan mahasiwa adalah bersikap optimis dan menjadi bagian sinergi dari perjuangan Kampus Merdeka. Kalau diperlukan, juga menjadi oposisi sehat yang ikut mengkritik secara positif, karena “tidak setiap niat baik akan secara istiqomah/konsisten melandasi perwujudan amaliyah sehingga diperlukan saling menasehati”.

Mahasiswa Warga Kampus Merdeka

Secara spesifik, Kampus Merdeka didesain menghasilkan mahasiswa yang mampu bersinergi bersama masyarakat untuk melakukan inovasi untuk menghadapi disrupsi. Oleh karenanya Kampus Merdeka didesain mampu melakukan inovasi dan melakukan kerjasama nyata dengan perusahaan/institusi atau instansi berkelas, baik itu perusahaan swasta, organisasi nir laba, BUMN, BUMD, atau universitas lain yang berkelas. Dengan dua hal ini Kampus Merdeka akan melakukan pengembangan kurikulum bersama mitra kerjasamanya secara sinergis. Di pihak lain, mitra kerjasama akan berpeluang menguatkan manajemen mereka dengan menempatkan tenaga kerja yang berkualitas dari perguruan tinggi.

Baca juga : Membumikan Keteladanan dan Pendidikan Akhlak

Mahasiswa sebagai warga Kampus Merdeka, selain difasilitasi pencapaian keilmuan dan keahlian sesuai prodi yang diambil, berhak selama 2-3 semester untuk melakukan studi di luar prodi sesuai minatnya, melakukan praktik mengajar atau magang di perusahaan/BUMN, BUMD, penelitian bersama dosen favoritnya, penelitian bersama mahasiswa S2/S3, atau KKN di masyarakat pilihannya. Mahasiswa bisa melakukan independent study dengan kurikulum hasil rancangan mereka dengan dosen pilihan mereka.

Segala upaya Kampus Merdeka di atas, pada dasarnya adalah untuk kepentingan mahasiswa. Oleh karenanya mahasiswa harus menyambut dan menyiapkan diri dengan baik. Paling tidak ada 7 (tujuh) hal yang tepat untuk dipersiapkan, yaitu: (1) memahami paradigma mengapa harus ada Kampus Merdeka; (2) melebarkan energi positif untuk berkolaborasi bersama banyak pihak membangun pendidikan yang holistik; (3) mulai berlatih kuliah dengan aktif berdiskusi dan berdebat dengan menimbang berbagai macam solusi, mengorganisir variabel, dan merumuskan inovasi; (4) mempersiapkan diri dengan berkomunikasi secara baik, termasuk dengan kritikus, pesimistik, dan penentang keras ide; (5) belajar kritis terhadap pihak di luar diri dan kritis terhadap diri sendiri; (6) gunakan teknologi informasi secara positif; dan (7) membingkai semuanya dalam frame ketakwaan.

 

Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam, Jurusan Studi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*