Imajinasi Membingkai Peradaban Islam

new-normal-pai-2

 

Kaliurang – Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Indonesia kembali menyelenggarakan acara Mengaji dan Mengkaji pada Kamis, 5 Dzulhijjah 1442H/15 Juli 2021 M. Tema yang diusung yaitu “Imajinasi Membingkai Peradaban Islam” dengan menghadirkan dua pembicara yaitu Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. (Rektor Universitas Islam Indonesia) dan Drs.Imam Mudjiono, M.Ag (Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Indonesia) dengan dimoderatori oleh Bapak Moh. Mizan Habibi, M.Pd.I (Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Indonesia).

Acara diawali dengan doa bersama untuk bangsa disertai harapan agar pandemi segera mereda dan keadaan pulih seperti sedia kala. Setelah doa bersama, acara dilanjutkan dengan pembukaan yang diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya dan hymne UII. Dalam sambutan Ketua Prodi PAI UII, Ibu Mir’atun Nur Arifah, S.Pd.I., M.Pd.I menyampaikan bahwa acara Mengaji & Mengkaji bertujuan untuk merawat isu kontemporer dalam ranah Pendidikan Islam. Kehadiran pimpinan dan jajaran dosen serta staff Fakultas Ilmu Agama Islam UII, juga mitra prodi PAI skala nasional dan regional dalam acara tersebut juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi. Sejalan dengan hal tersebut, Dekan FIAI Dr. Tamyiz Mukharrom, MA menyampaikan apresiasi terhadap terselenggaranya acara tersebut. Beliau menambahkan bahwa membicarakan peradaban Islam kebanyakan berdasar ijtihad manusia yang tidak bertentangan dengan pokok-pokok syariah, sehingga umat Islam tidak boleh terlepas dari ilmu pengetahuan.

Dalam kajian ilmiahnya, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. memaparkan betapa pentingnya perkawinan antara Islam dan ilmu sains. Produk sains untuk pengembangan ilmu di kawasan muslim dibandingkan populasinya hanya 2% dibanding variabel di kawasan lain. Realitas di Indonesia menunjukkan rendahnya kontribusi ilmu pengetahuan dengan kualitas yang juga masih perlu dipertanyakan. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi Muslim zaman dahulu yang begitu dekat dengan ilmu hingga menguasai berbagai bidang keilmuan, muslim sekarang seringkali fokus pada hal kecil yang sifatnya reaktif padahal tidak berkaitan dengan ilmu. Hal ini menjadi salah satu sebab kegagalan kalangan muslim, selain sebab lain diantaranya tidak dapat mengapresiasi kekuatan dirinya, gagal dalam memahami realitas kontemporer (gagap melihat perkembangan yg ada), dan gagal berubah dengan cepat. Mengatasi hal tersebut, ada dua pilihan strategi bangkit yang ditawarkan yaitu reproduksi dan rekonstruksi. Reproduksi melalui proses mekanis, berorientasi ke masa lalu, dan melibatkan mentalitas yang baku dan kaku. Berbeda dengan rekonstruksi yang melalui proses intelektual, berorientasi ke masa depan meski ada elemen masa lalu, dan memerlukan invensi dan inovasi. Menutup kajian ilmiah, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. menyampaikan pentingnya melakukan suatu hal dengan tujuan untuk pengembangan ilmu, karena ilmu memiliki posisi penting yang mempengaruhi pandangan dan eksistensi hati.

Dalam kajian ilmiah oleh Drs.Imam Mudjiono, M.Ag, beliau menyampaikan kedudukan muslim seharusnya dapat menjadi khoiru ummat yang menjadikan Islam rahmatan lil ‘alamin. Kisah  Syaikh Muhammad Abduh ketika berkunjung ke Perancis dan Negara Timur menggambarkan perbedaan karakter muslim yang belum bisa menerapkan nilai luhur Islam dalam keseharian. Kemunduran umat Islam terjadi karena meninggalkan Al-Quran, mereka menjadikan Al-Quran  hanya sebagai pajangan tanpa mengambil makna di dalamnya. Beliau merangkum kunci kesuksesan dari berbagai tokoh besar dan berpengaruh di dunia. Beberapa hal tersebut yang hendaknya dimiliki seorang muslim diantaranya memiliki mimpi besar, kepercayaan, passionate, focus, berintegritas, disiplin, berani berbeda, dan memiliki kecerdasan emosional. (Nng/Muf)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*